Sistem informasi geografis Persebaran tren kejadian DBD kabupaten Semarang tahun 2023 dan 2024

Studi Kasus Tahun 2023 dan 2024 dengan Sistem Informasi Geografis

Abstrak Penelitian

Sistem informasi geografis Persebaran tren kejadian DBD kabupaten Semarang tahun 2023 dan 2024

Penelitian ini bertujuan untuk memetakan dan menganalisis persebaran tren kejadian DBD di Kabupaten Semarang pada tahun 2023 dan 2024 menggunakan Sistem Informasi Geografis (SIG). Metode yang digunakan adalah analisis deskriptif spasial dengan teknik overlay dan klasifikasi berdasarkan jumlah penderita per kecamatan.

Hasil penelitian menunjukkan peningkatan total penderita dari 155 (2023) menjadi 214 (2024). Kecamatan dengan kasus tertinggi pada tahun 2024 adalah Tengaran (44 kasus), Ungaran Timur (29 kasus), dan Bergas (25 kasus). Peta kerawanan DBD yang dihasilkan menunjukkan adanya pergeseran wilayah dengan kategori rawan antara kedua tahun tersebut. Analisis ini diharapkan dapat menjadi acuan dalam perencanaan program pengendalian DBD yang lebih terarah dan berbasis wilayah.

Statistik Kasus DBD

155
Total Kasus Tahun 2023

Tanpa kasus kematian

214
Total Kasus Tahun 2024

Peningkatan 38% dari 2023

2
Kasus Kematian Tahun 2024

Terjadi di Kecamatan Bergas

Data Kasus per Kecamatan

Data Kasus DBD Tahun 2023 dengan Indikator Warna
Legenda Warna: Rendah (0-5 kasus) Sedang (6-10 kasus) Tinggi (>10 kasus)
No Kecamatan Jumlah Penderita Kematian Kategori
Data Kasus DBD Tahun 2024 dengan Indikator Warna
Legenda Warna: Rendah (0-5 kasus) Sedang (6-10 kasus) Tinggi (>10 kasus)
No Kecamatan Jumlah Penderita Kematian Kategori
Grafik Perbandingan 5 Kecamatan Tertinggi

Peta Persebaran DBD Kabupaten Semarang

Analisis spasial menggunakan Sistem Informasi Geografis (SIG) dengan QGIS

Peta Batas Administrasi Kecamatan Kabupaten Semarang 2024
Memuat Peta...
Peta Batas Administrasi Kecamatan Kabupaten Semarang 2023
Memuat Peta...
Informasi Peta dan Legenda Warna
Interpretasi Warna pada Peta

Warna pada peta menunjukkan tingkat keparahan kasus DBD di setiap kecamatan:

Hijau: Kasus Rendah
Jumlah kasus DBD relatif sedikit, perlu pemantauan rutin
Kuning: Kasus Sedang
Perlu peningkatan kewaspadaan dan surveilans
Merah: Kasus Tinggi
Prioritas intervensi dan tindakan pencegahan segera
Kriteria Klasifikasi Kasus
Kategori Rendah (Hijau)
  • Tahun 2023: 0-5 kasus
  • Tahun 2024: 0-5 kasus
  • Indikator: Tidak ada kematian, pertumbuhan kasus stabil
Kategori Sedang (Kuning)
  • Tahun 2023: 6-10 kasus
  • Tahun 2024: 6-10 kasus
  • Indikator: Perlu perhatian khusus, kemungkinan klaster
Kategori Tinggi (Merah)
  • Tahun 2023: >10 kasus
  • Tahun 2024: >10 kasus
  • Indikator: ada 2 kematian di kecamatan Bergas tahun 2024
Catatan Penting: Klasifikasi warna ini membantu identifikasi cepat wilayah prioritas untuk intervensi. Wilayah berwarna merah membutuhkan tindakan segera seperti fogging intensif, Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) massal, dan sosialisasi pencegahan DBD.

Kesimpulan dan Rekomendasi

Kesimpulan Utama

  • Total kasus penderita DBD di Kabupaten Semarang mengalami kenaikan dari tahun 2023 (155 kasus) ke tahun 2024 (214 kasus), disertai munculnya kasus kematian (2 kasus) di tahun 2024.
  • Wilayah prioritas DBD bergeser dari klaster yang didominasi oleh Bawen di tahun 2023 ke Tengaran, Ungaran Timur, dan Bergas di tahun 2024.
  • Data ini dapat digunakan sebagai dasar awal oleh Pemerintah Daerah untuk memperkuat sistem surveilans dan merencanakan intervensi pencegahan berbasis lingkungan secara lebih spesifik pada wilayah-wilayah dengan lonjakan kasus yang tinggi.
Rekomendasi Berdasarkan Tingkat Keparahan
Wilayah Hijau (Rendah)
  • Pemantauan rutin kasus DBD
  • Edukasi pencegahan dasar
  • Pemeriksaan jentik berkala
  • Penyuluhan 3M Plus
Wilayah Kuning (Sedang)
  • Surveilans intensif mingguan
  • Fogging fokus
  • Peningkatan kewaspadaan
  • Pelatihan kader jumantik
  • Monitoring khusus
Wilayah Merah (Tinggi)
  • Intervensi darurat
  • Fogging massal
  • PSN intensif harian
  • Posko DBD darurat
  • Koordinasi lintas sektor
  • Alokasi sumberdaya khusus